BENAR-BENAR TAK BISA
Kamarku mulai terasa hangat.
Cahaya sang mentari mulai menyilaukan mataku yang belum sepenuhnya terbuka. Aku
berusaha bangun dari ranjangku dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Segera
mandi, dan bla bla bla. Rutinitas pagi yang setiap pelajar lakukan.
“Pagi ayah, ibu..” sapaku
saat bertemu mereka di meja makan
“Makan dulu gih..” pinta
ibuku
“Nggak deh bu, si Ega udah
nungguin di depan rumah. Nih, dari tadi dia misscalled melulu.”
“Kok nggak diajak masuk?”
sahut ayahnya
“Nggak usah yah.
Kapan-kapan saja, udah keburu nih. Berangkat dulu Yah, Bu. Assalamualaikum.”
Ucapnya sambil mencium tangan ayah dan ibunya
**
“Ayo cepetan! Sudah hampir
telat nih..”
“Iya iya, sabar sedikit
lah. Bawel banget sih jadi cowok.” Aku segera naik keboncengan motornya
Ega itu temanku sejak TK.
Rumah kami dekat, jadi setiap hari selalu berangkat bersama. Kami sangat dekat.
Kemana-mana selalu berdua. Dimana ada dia, disitu ada aku. Seperti Galih dan
Ratna. Banyak orang yang salah paham saat melihat kami berdua, banyak yang
mengira kami pacaran, padahal belom (Ngarep jadi pacar).
**
“Huft, untung belom telat.
Kamu sih, LEMOT..” sambil menjitak keningku
“Argh, sakit tau! Dasar
bawel. Biasanya kamu yang telat saja aku nggak protes, giliran aku, diomelin
terus. Huh!”
“Heh, wajah mu nggak cocok
buat marah. Nggak kelihatan imut tau!” goda Ega
“Whatever you said. I dont
care.” Aku pun bergegas masuk ke kelas, diikuti oleh Ega
**